Jepara (6 Mei 2026) –  Ekosistem lamun memegang peranan penting dalam keseimbangan wilayah pesisir. Beragam manfaat ekologis lamun sangat krusial bagi organisme akuatik seperti daerah pemijahan (spawning ground), asuhan (nursery ground), dan tempat mencari makan (feeding ground). Selain itu, lamun dapat menjadi peredam ombak dan sediment trap sehingga dapat menjadi buffer yang meminimalisir terjadinya abrasi dan akresi di sepanjang garis pantai. Namun, fungsi ini tidak banyak diketahui masyarakat pesisir, sebagaimana halnya pengelola wisata kawasan Pantai Prawean Jepara yang sering menyebut lamun dengan istilah jelamun. Pantai Prawean Jepara merupakan salah satu destinasi wisata dengan perkembangan  pesat di Jepara, terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan lokal maupun domestik yang berkunjung. Aktivitas yang digemari salah satunya adalah berenang di pantai yang dapat mengganggu keberadaan lamun. Selain itu, aktivitas alur kapal dari Prawean ke Pulau Panjang, dan tambat labuh kapal diduga juga dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan bahkan hilangnya padang lamun. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Nurul Latifah, S.Kel., M.Si. dan tim menunjukkan adanya penurunan kerapatan ekosistem lamun di Prawean dari musim timur (182,3±21,1 ind/m2) ke musim barat (177,5±30,9 ind/m2). Hilangnya ekosistem ekosistem lamun dalam jangka panjang akan berdampak pada hasil tangkapan ikan oleh nelayan semakin berkurang, terjadinya abrasi pantai, berkurangnya serapan karbon sebagai salah satu aksi mitigasi perubahan iklim. Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (MSP-FPIK Undip)  terdorong untuk melakukan rehabilitasi lamun melalui upaya transplantasi lamun di sekitar area pantai di luar kawasan yang digunakan sebagai aktivitas berenang wisatawan. Pengabdian dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2026 yang dihadiri dan disambut antusias oleh Petinggi Desa Bandengan dan Pengelola Wisata Pantai Prawean. Metode yang digunakan dalam transplantasi ini adalah metode frame menggunakan kerangka besi (Gambar 1) dan metode plug menggunakan anyaman bambu (Gambar 2) dengan jenis lamun donor adalah Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata yang memiliki sistem perakaran yang kuat dengan morfologi yang besar dan memiliki simpanan karbon lamun yang tinggi dibandingkan jenis lamun lainnya . Penggunaan 2 (dua) metode tersebut merupakan bagian dari transfer pengetahuan agar masyarakat mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing metode. Diharapkan upaya ini mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk terus melestarikan lamun demi keseimbangan ekosistem pesisir Jepara. Pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Dr. Nurul Latifah, S.Kel., M.Si dengan anggota pengabdian Dr. Churun Ain, S.Pi., M.Si, dan Dr. Ir. Frida Purwanti, M.Sc.

Gambar 1. Metode frame besi diharapkan dapat membantu menahan lamun agar tetap stabil selama proses adaptasi dan pembenaman akar pada substrat.

 

Gambar 2. Metode plug dengan anyaman besi yang langsung ditancapkan dalam sedimen yang lebih ramah lingkungan.